Namaku Rina. Aku memiliki hobi menari. Sejak duduk di bangku Taman Kanak-kanak, aku sudah berlatih menari.
Suatu hari, ada lomba menari di desa Wilosa. Di sekolahku, diadakan pemilihan perwakilan untuk mengikuti lomba.
Aku membuat kelompok yang terdiri dari 7 orang, yaitu Endah, Kiki, Mita, Indah, Raras, Kayla, dan Nadia. Kami sudah bersahabat sejak duduk di bangku Taman Kanak-kanak dan kami memiliki hobi yang sama. Kami lalu menuju ke kantor guru dan mendaftar.
Setelah itu bel masuk pun berbunyi. kami yang masih berada di kantor guru segera berlari masuk ke kelas. Pelajaran Bahasa Inggris telah dimulai. Bu Pipit menerangkan bagaimana membaca dan menulis kata dalam Bahasa Inggris.
Usai pelajaran, aku mengajak ketujuh sahabatku itu untuk ke kantin milik Mak Nani. Di sana, kami memakan jajanan kesukaan kami masing masing, sambil bercerita untuk menentukan tarian dan kostum untuk lomba minggu depan.
Setelah puas melahap makanan tadi, bel tanda pelajaran selanjutnya berbunyi, tepatnya pelajaran matematika. Sebelum mulai pelajaran, Bu Lenatha masuk dan mengumumkan,’’Setelah diadakan rapat guru, perwakilan lomba menari tingkat Desa Wilosa adalah Kelompok ‘Bunga’yang beranggota 7 orang.’’
Wah, kelompokku terpilih! Kami bertujuh lompat kegirangan sampai-sampai kami naik ke atas kursi. Lalu setelah pelajaran selesai, kami berlatih di ruang perpustakaan.
’’Kita pilih lagu yang pas,’’kata Indah seraya memutar-mutar tombol di radio.
Awalnya, saat kami pertama kali latihan, terjadi kesulitan. Ada gerakan seperti menendang dan saat itu rok milik Indah sobek. Pernah juga saat gerakan berputar badan, Endah, Kiki, dan aku terjatuh dan saling menindih.
Tapi kami tidak menyerah! Walaupun sakit, kami tidak mengeluh. Kami malah tertawa. Karena tertawa, rasa sakit itu jadi hilang.
Setelah pulang sekolah, sorenya kami berlatih di rumah Mita. Setelah selesai berlatih, kami beristirahat sejenak sambil meminum sirup buatan ibunya Mita. Rasanya sangat lelah sekali.
Keesokan harinya, hari yang kutunggu datang juga. Hari lomba!
Saat pelajaran sains, Pak Kepala Sekolah masuk ke kelas kami bersama guru seni rupa dan mengantarkan kami ke tempat lomba. Hati kami berdebar-debar saat menunggu dipanggil.
’’Kelompok Bunga!’’panggil juri dengan menggunakan pengeras suara. Kami segera naik ke atas panggung dan mulai menunjukkan aksi kami. Kami memakai gaun berpita yang berwarna ungu dan pink. Para penonton bertepuk tangan saat kami selesai tampil.
Hati kami berdebar-debar menunggu pengumuman pemenang. Juri mengumumkan pemenang.
’’Juara ketiga diraih oleh... The Power Girls! Juara kedua diraih oleh Let's Be TheG greener! Dan... juara pertama diraih oleh………Bunga!’’
‘’Yeee….!!’’seru kami bertujuh.
’’Wah, kalian hebat sekali bisa menciptakan tarian yang unik! Kalian memang si penari cilik terhebat yang pernah Bapak lihat! Bagus!’’kata Bapak Kepala Sekolah yang telah mengantar kami.
’’Terima kasih, Pak,’’kata kami sambil memegang piala yang diberikan oleh juri.
’’Mudah-mudahan saat ada kompetisi menari lagi kalian bisa ikut dan menjadi juara lagi!’’kata pak guru seni rupa.
’’Amin....’’kata kami serempak.
Pengalaman yang tidak akan kulupakan. Berkat kesungguhan kami berlatih, kami jadi juara. Ternyata, menjadi juara itu sangatlah menyenangkan. Apalagi kalau menjadi juara pertama. Awalnya kami grogi, tapi akhirnya kami bisa. Terima kasih ya Allah, telah memberikanku kemudahan serta keberanian.
Setelah lomba selesai, kami pulang ke sekolah dengan hati yang gembira. Kebetulan, saat aku, Endah, Mita, Kiki, Indah, Raras, Kayla, dan Nadia sampai di sekolah, teman-teman kami yang lain sudah pulang dan menunggu orang tua mereka menjemputnya.
Saat sampai di rumah, aku langsung lari ke dalam rumah tanpa melepas sepatuku dan melempar tasku ke sofa ruang tamu.
’’Bunda!!!’’teriakku.
’’Ada apa sih, kok kamu teriak? Kok sepatunya nggak dicopot dulu?’’tanya bundaku dengan sangat bingung, yang juga berlari sambil membawa-bawa wajan dan spons cuci piring yang masih ada sabunnya.
’’Aku juara satu di lomba menari tadi, Bun!!’’seruku.
’’Wah, selamat ya Rina!’’kata bundaku yang juga masih membawa wajan dan spons cuci piring sambil memelukku.
’’Kalau begitu, kamu ganti baju, cuci muka lalu makan ya! Bunda masak ayam goreng tepung juga ada saus tomat dan cabe. Kamu pasti lelah,’’kata bunda sambil membelaiku.
’’Iya Bun. Tapi bajuku kena busa dari spons cuci piring Bunda,’’kataku.
’’Oww, maaf!’’jawab Bunda. Kami pun tertawa-tawa bersama.
Yang membuat aku suka pada tarian adalah agar bisa nelestarikan tarian budaya Indonesia. Berkat persahabatan kami, kami pun bisa menjadi juara. Kata pak guru, tarian kami beliau bilang unik karena kami mencampurkan beberapa tarian. Memang, kami mencampur sedikit Hip Hop, tari jaipong, dan tarian khas kami. Terimakasih ya Allah yang telah memberi kemudahan dan keberanian. Karena-Mu, kami bisa menjadi juara dan pandai di bidang menari. Mudah-mudahan kata pak guru seni rupa itu benar. Ia menyuruh kami mengikuti lomba lagi dan siapa tahu kami bisa menjadi juara lagi di lomba itu. Semoga saja. Doakan aku ya Bunda!